Gazza bukan Gaza (yang berdarah)

By indon

PALESTINIAN-ISRAEL/
SEMASA remaja aku pernah terkagum-kagum pada sosok Gazza. Pesepakbola bernama asli Paul Gascoigne ini dikenal sebagai salah satu pemain tengah terbaik di Inggris. Bahkan kendati Inggris kini punya sederetan pemain tengah hebat semisal Steven Gerrard atau Frank Lampard, namunĀ  Gazza masih menjadi figur yang kerap diperbincangkan.

Gazza kini entah bagaimana kabarnya. Media massa menyebut dia terlibat dalam berbagai kasus, terutama karena keterlibatannya pada minuman keras.

Kalau Gazza relatif terlupakan, beda halnya dengan Gaza, yang kini setiap hari muncul di media massa. Gaza adalah kawasan Palestina yang kini menjadi sasaran serangan Israel. Saat tulisan ini dibuat, korban akibat serangan Israel hampir mencapai seribu orang, sebagian besar adalah anak-anak dan perempuan.

Di seluruh dunia, termasuk Indonesia, kutukan datang bertubi-tubi. Reaksi muncul dari berbagai pihak, dengan beragam gaya. Ada yang bersikeras ingin ‘berjihad’ dan menjadi relawan di Palestina, ada yang menyerukan agar produk Amerika dan Israel diboikot, ada yang membakar (dan menginjak) bendera Israel, dan masih banyak lagi.

Simpati untuk Palestina, tentu bisa dipahami.

Namun sejauh mana efektifitas berbagai aksi itu terhadap Palestina, atau dalam hal ini Gaza?

Jika di indonesia kita menginjak-injak bendera Israel, bagaimana dampaknya di Palestina? Tidak ada.

Karena itu, kendati secara prinsipĀ setuju dengan berbagai tindakan pro Palestina ini, aku lebih menyukai aksi yang memberikan dampak signifikan. Seperti memberikan bantuan berupa transfer uang ke rekening tertentu, atau mengirimkan SMS yang uangnya dikirim ke Palestina.

Apa yang terjadi di Gaza adalah peristiwa memilukan. Dan seharusnya dikutuk. Namun kutukan saja tak akan memberi apa-apa.

Gaza, tentu saja beda dengan Gazza. Gazza bisa dilupakan karena tabiatnya yang buruk. Gaza, seharusnya tetap diingat. Bukan karena sentimen agama, tapi karena kita menjadi saksi bagaimana kebiadaban terjadi dengan alasan dendam. Dan sejarah.

1 Response to Gazza bukan Gaza (yang berdarah)

  1. Rabi Yahudi Kunjungi Senayan. Kok bisa? - indon3sia.com

    [...] kebijakan luar negeri yang kerap membuat ‘darah tinggi’, terutama kebijakan menyangkut Palestina. Ada banyak sekali (kalau tidak dikatakan semua) kebijakan Israel yang perlu [...]

 
 

Post a Comment