Tag: caleg
Politik itu mahal. Politik itu kejam
by indon on Apr.11, 2009, under politics
POLITIK itu kotor, mungkin sudah bukan rahasia umum. Politik itu mahal, mungkin juga sudah banyak yang tahu. Tapi politik itu kejam?
Politik itu (ternyata) kejam. Paling tidak, ini yang ada di benak ribuan calon anggota legislatif (caleg), pasca Pemilu legislatif. Fakta ini baru disadari setelah melihat betapa tingginya kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Bahwa ada perbedaan yang sangat signifikan antara mimpi dan realita. Bahwa kursi empuk sebagai wakil rakyat yang tadinya dirasa sangat dekat ternyata pada kenyataan letaknya jauh sekali. Amat sangat jauh.
Sejumlah media massa melaporkan bagaaimana reaksi para caleg setelah menyadari kalau impiannya kandas dihembus angin. Ada yang pingsan. Ada yang meradang. Ada yang sakit. Ada yang….
Sebuah ambisi ada harganya. Semua cita-cita harus disertai pengorbanan. Namun untuk politik, banyak yang tak menyadari kalau terkadang yang dikorbankan itu sudah terlampau besar. Mata telah silau dengan iming-iming kekuasaan. Padahal, realitanya tidak semudah itu.
Kini kita tunggu, apakah kamar ‘ekstra’ yang disediakan sejumlah rumah sakit akan benar-benar terisi oleh pasien baru yang dulunya disapa dengan istilah sangat keren: caleg!!
Para caleg mungkin siap kalah, tapi apakah mereka siap gila?
by indon on Mar.20, 2009, under politics
INILAH saat ketika mereka yang bercita-cita menjadi wakil rakyat, mengobral janji dan janji. Saat ketika mereka terjun ke medan perang guna memenangkan hati rakyat.

Para caleg ini, umumnya mengatakan mereka siap untuk menjadi legislator, sekaligus siap kalah dan tidak terpilih. Namun apakah mereka siap menjadi gila? (continue reading…)
Caleg macam mana yang sebaiknya dipilih?
by indon on Mar.10, 2009, under politics
AKU pernah menulis bahwa ada kecenderungan, para calon anggota legislatif (caleg) mengajukan diri sebagai calon wakil rakyat semata karena uang. Tapi tentu saja tidak adil jika aku menyamaratakan, karena pasti masih ada caleg yang memang bercita-cita menjadi wakil rakyat yang nantinya benar-benar menyuarakan aspirasi masyarakat. Caleg yang seperti ini, yang seharusnya kita pilih nanti.
Aku sudah membuat beberapa daftar, caleg macam mana yang sebaiknya dipilih. Daftar ini dibuat berdasarkan selera pribadi, dan mungkin saja berbeda dengan daftar teman-teman.
Pertama, sebaiknya memilih caleg yang kaya-raya. Bukan sekedar kaya, tapi kaya-raya. Kenapa? (continue reading…)
Jadi caleg karena uang?
by indon on Mar.02, 2009, under politics
APA alasan utama ketika seseorang memutuskan menjadi calon anggota legislatif Indonesia? Jika pertanyaan ini diajukan ke sejumlah caleg, jawaban yang terlontar bisa beragam. Namun umumnya mereka akan mengumbar kalimat indah seperti: Guna memajukan demokrasi, memperjuangkan aspirasi rakyat, melindungi hak rakyat, dan yang semacam itu.
Dipastikan tak akan ada yang dengan jujur mengatakan, kalau dia menjadi caleg karena ingin mencari… uang.

foto diambil dari juddlegum.com
Godaan untuk menjadi legislator—yang digaji pemerintah dengan jumlah nominal yang lumayan besar, memang kini merasuk ke ribuan caleg di Tanah Air. Kemudahan berbagai fasilitas sebagai wakil rakyat membuat banyak yang tergiur.
Banyaknya partai membuat mekanisme penjaringan untuk menjadi caleg tergolong mudah. Para caleg pun akhirnya berlomba-lomba menarik simpati masyarakat dengan berbagai jargon yang umumnya muluk-muluk. Jargon yang memperlihatkan kepedulian yang sangat lekat pada rakyat.
Tak satupun caleg yang dengan jujur mau mengatakan, kalau dia mencalonkan diri agar kehidupannya dan keluarga selang lima tahun mendatang akan lebih terjamin. Tak ada caleg yang berani mengatakan dia menjadi caleg semata karena uang.
Ataukah memang para caleg ini benar-benar mau memperjuangkan rakyat dan bukan semata karena uang?
Perlukah perlakuan khusus untuk caleg perempuan?
by indon on Feb.18, 2009, under politics
KETIKA semua mendapat kesempatan yang sama, kenapa harus ada satu pihak yang diberi kelonggaran?
Ini kesan yang kutangkap ketika KPU berencana memberi peluang kepada caleg perempuan untuk secara otomatis mendapat kursi sebagai legislator. Jika sebuah partai mendapat tiga kursi, maka kursi ketiga akan diberikan kepada caleg perempuan.
Kebijakan ini diambil sebagai reaksi dan ketakutan akan minimnya legislator perempuan hasil pemilu legislatif, sebagai dampak keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang intinya menggariskan bahwa legislator yang mendapat kursi adalah yang meraih suara terbanyak. Bahkan sejumlah organisasi perempuan di Indonesia dengan tegas mengatakan, putusan MK itu secara langsung memperkecil peluang perempuan menjadi wakil rakyat.
Secara pribadi aku menganggap kekhawatiran ini terlalu mengada-ada. Bukankah justru dengan suara terbanyak, peluang caleg perempuan untuk terpilih semakin besar? Jangankan 30 persen, perempuan justru berpeluang menduduki 50 persen kursi parlemen.
Dengan sistim suara terbanyak, semua caleg memiliki peluang sama, apapun nomor urutnya, dan apapun jenis kelaminnya.
Jadi, kenapa perlu ada perlakuan khusus untuk caleg perempuan?
Aku sendiri punya beberapa teman perempuan yang menjadi caleg, dan secara obyektif aku nilai mereka sangat pantas untuk menjadi wakil rakyat, terutama jika pertimbangannya intelegensi dan wawasan. Namun aku lebih senang jika mereka menjadi legislator karena memang dipilih rakyat, karena konstituen menganggap mereka layak, dan bukan karena mendapat ‘jatah’.
Anda setuju?
Putusan MK yang bikin stress
by indon on Jan.06, 2009, under politics
MENJELANG akhir tahun 2008 dan di awal 2009, banyak calon legislatif Indonesia yang ’stress’. Calon wakil rakyat yang sakit kepala ini umumnya bertengger di nomor urut jadi (1 atau 2) pada daftar calon tetap yang dikeluarkan KPU. Penyebabnya adalah keluarnya putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menyatakan calon dipilih berdasarkan suara terbanyak dan bukan karena urutan nomor.
Memang yang terjadi selama ini, caleg yang duduk di nomor urut jadi, terutama di partai besar dan mapan, sudah dipastikan bakal memperoleh kursi, walau pada pemilu perolehan suaranya jeblok. Penyebabnya adalah aturan soal akumulasi suara dari nomor urut di bawah, yang tak mencapai BPP.
Putusan MK ini sontak merubah segala kebiasaan dan mungkin juga mimpi. Kini yang bakal duduk menjadi wakil rakyat adalah mereka yang memperoleh suara terbanyak.
Adilkan putusan MK ini?
Aku sendiri menganggap ini sangat fair. Artinya, walau caleg itu bertengger di nomor sepatu, namun jika dia dipercaya dan akhirnya dipilih rakyat, dia yang bakal menjadi wakil rakyat. Dalam hal ini, mereka yang menjadi wakil rakyat benar-benar merupakan representasi suara rakyat.
Tapi tentu saja peluang para caleg yang dulunya duduk di nomor jadi tetap terbuka. Hanya peluangnya tidak sebesar dulu. Kini mereka harus berjuang sekuat tenaga, turun ke masyarakat dan benar-benar memperkenalkan diri dan program.
Kita berharap siapa pun yang terpilih menjadi wakil rakyat adalah mereka yang benar-benar dipilih rakyat dan bisa membawa aspirasi masyarakat.
Semoga.


